Topeng Bahagia di Hari Senin

Alarm ponsel berbunyi tepat pukul 06.00 pagi. Rasanya, suara notifikasi itu justru jadi musuh terbesar dibanding sahabat baik yang membangunkan tidur.

Kusempurnakan riasan di wajah dengan sangat tipis. Tujuannya cuma satu: menutupi kantung mata yang menghitam karena semalam terlalu lama melamun.

Di cermin, aku melihat sosok perempuan yang tampak siap menghadapi hari. Tapi sejujurnya? Di dalam hati, aku merasa sedang memakai topeng yang sangat tebal.

Perjalanan menuju kantor diisi dengan deru mesin angkutan umum dan kepulan asap kendaraan. Di tengah sesak ini, aku mulai bertanya, apakah mimpi-mimpiku dulu masih ada di sini?

Dulu, aku ingin berkeliling dunia sebelum usia 25. Sekarang? Sampai di kantor dan menaruh tas di meja kerja tepat waktu saja sudah dianggap prestasi besar.

Tiba di meja kerja, layar komputer menyambutku dengan tumpukan email yang menunggu balasan. Bos sudah mulai mengirimkan instruksi yang intonasinya sudah bisa kubayangkan melalui tulisan.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang mendadak cepat. Bukan karena semangat, tapi karena rasa cemas yang selalu datang tanpa diundang.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk di ponselku. Aku melihat nama Mama muncul di layar, dengan sebuah pesan yang sudah bisa kutebak isinya.

Pesan itu singkat: "Dek, kapan pulang ke rumah? Tetangga depan rumah itu, si Rina, bulan depan sudah melahirkan anak keduanya. Kamu kapan?"

Ponsel itu kutaruh dengan tangan gemetar. Di saat aku sedang berusaha keras untuk tidak menangis di meja kerja, dunia seolah terus menekanku dari segala arah.

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.