Pacar yang Layak di Mata Keluarga, Tapi Asing di Mata Hati

Setelah hari yang melelahkan karena harus memikirkan pesan Mama, malam ini aku mencoba melarikan diri dengan makan malam bersama dia. Dia adalah definisi pria idaman keluarga.

Bekerja di perusahaan stabil, santun saat bicara dengan Ayah, dan punya masa depan yang terukur jelas. Selama ini, hubungan kami dianggap "layak" oleh orang tua.

Malam ini, kami duduk di sebuah kafe. Musik jazz yang samar-samar justru membuat suasana terasa semakin canggung di antara kami.

Dia membicarakan rencana cicilan rumah di pinggiran kota, tentang simulasi bunga kredit, dan masa depan yang "aman". Aku mendengarkannya dengan anggukan yang kaku.

Mataku menatap wajahnya, mencari percikan gairah atau setidaknya kenyamanan yang dulu sempat aku impikan dari sebuah hubungan.

Namun, yang kutemukan hanyalah sosok asing yang duduk di depanku. Kami menghabiskan tiga tahun bersama, tapi kenapa rasanya aku tidak mengenal siapa dia sebenarnya?

Mungkin karena selama ini, hubungan kami bukan dibangun atas dasar kecocokan jiwa, melainkan atas dasar restu orang tua yang menganggapnya "layak".

Aku melihat tangannya terulur, mencoba menggenggam tanganku. Refleks, aku menarik tanganku pelan, beralasan ingin menyeruput kopi yang sudah mendingin.

Melihat tatapan bingung di matanya, aku merasa bersalah. Dia pria baik, sungguh. Tapi kenapa kebaikan itu justru terasa seperti beban yang mencekik?

Saat dia menatapku dan bertanya, "Kamu bahagia, kan, sama aku?", pandanganku mengabur. Aku menatap matanya dalam-dalam, mencoba mencari jawaban di sana, tapi yang kutemukan hanyalah kehampaan yang begitu nyata: aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku merasa benar-benar hidup bersamanya.

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.