Burnout Jam 3 Sore dan Tangisan di Balik Toilet Kantor

Kencan makan malam yang hambar semalam membuat tidurku tidak nyenyak. Jam menunjukkan pukul 15.00 sore, waktu di mana semangat kerjaku mencapai titik terendah.

Di meja kerja, tumpukan laporan yang belum terselesaikan menatapku tajam. Layar monitor sudah mulai kabur karena mataku yang terlalu Lelah menatap angka-angka.

Kepalaku terasa berdenyut kencang, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk bagian pelipis. Aku menarik napas, mencoba mencari oksigen di tengah ruangan yang terasa sempit.

Tiba-tiba, suara notifikasi email baru masuk. "Urgensi tinggi, tolong segera direvisi sebelum jam 5 sore." Kalimat itu tampak seperti perintah eksekusi mati buatku.

Aku tidak sanggup lagi. Dengan sisa tenaga yang ada, aku berdiri dan berjalan cepat menuju toilet kantor yang paling ujung, mencari tempat untuk menyendiri.

Begitu pintu toilet terkunci rapat, aku menyandarkan punggung ke pintunya. Perlahan tubuhku merosot ke lantai keramik yang dingin.

Tanpa bisa ditahan lagi, air mata yang sudah kutahan sejak pagi akhirnya jatuh membasahi pipi. Isakan kecil pecah di tengah kesunyian ruangan itu.

Aku benci diriku yang serapuh ini. Aku benci harus menangis hanya karena pekerjaan yang tak kunjung selesai dan ekspektasi yang tak kunjung terpenuhi.

Di sini, di balik dinding toilet ini, aku bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memakai topeng "si kuat" yang selalu kupakai di meja kerja.

Namun, saat aku baru saja mulai merasa bisa bernapas sedikit lebih lega, terdengar ketukan keras di pintu toilet. "Mbak? Kamu baik-baik saja? Sudah lama di dalam, lho."

Bersambung....

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.