Cicilan, Ekspektasi, dan Dompet yang Kering

Setelah pesan dari Mama di Bab 1 kemarin, hari-hariku di kantor terasa jauh lebih berat. Setiap kali melihat notifikasi ponsel, jantungku berdegup kencang, membayangkan pertanyaan kapan nikah lainnya.

Kini, gaji yang masih dua minggu lagi membuatku makin pusing. Tagihan listrik, cicilan motor, hingga kiriman untuk orang tua di kampung sudah mengantre.

Dulu, aku berpikir punya penghasilan sendiri adalah tiket menuju kebebasan. Nyatanya, itu hanyalah tiket pindah dari penjara rumah orang tua ke penjara bernama rutinitas.

Ibu menelepon semalam, suaranya terdengar cemas. Beliau meminta tambahan dana untuk biaya pengobatan Ayah yang katanya harus rutin kontrol ke klinik setiap bulan.

Aku hanya bisa menjawab dengan nada tenang, "Iya Bu, nanti aku usahakan kirim ya." Padahal, aku sendiri belum tahu dari mana uang itu akan datang.

Di sudut meja, kulihat tumpukan berkas pekerjaan yang menuntut diselesaikan. Kalau aku lembur, mungkin akan ada tambahan uang, tapi apakah tubuhku masih sanggup?

Pilihan itu mendesak di depan mata: mengabaikan kebutuhan pribadi yang sudah sangat tipis, atau mencoba meminjam ke teman yang entah kapan bisa kubayar kembali.

Ponselku berdering lagi. Kali ini bukan telepon, melainkan pesan masuk dari aplikasi pinjaman online yang menawarkan kemudahan akses dana cepat dengan bunga "ringan".

Tanganku gemetar saat membuka aplikasi tersebut. Hanya perlu sekali tekan, uang itu bisa masuk ke rekening dalam hitungan menit untuk membantu Ayah.

Tapi, aku tahu persis jebakan apa yang menanti di baliknya. Sambil memegang ponsel yang hangat, aku menatap layar dengan satu keputusan yang harus kubuat sekarang: bertahan dengan rasa lapar dan cemas, atau terjerat dalam lingkaran yang mungkin tak akan pernah ada ujungnya?

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.