Chat Mamah: Kapan Pulang? Tetangga Sudah Hamil Anak Kedua

Setelah pertarungan batin soal masalah keuangan kemarin, hari ini aku kembali harus menghadapi cobaan lain. Notifikasi grup keluarga kembali muncul, kali ini pesannya dari Mama langsung.

Pesan itu terbaca jelas di layar: "Dek, mumpung masih muda, jangan kerja terus. Tetangga depan rumah, si Rina, bulan depan sudah melahirkan anak kedua. Kapan kamu pulang dan bawa kabar baik?"

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi bagi telingaku, setiap katanya terasa seperti tusukan jarum yang tajam. Seolah-olah pencapaian hidupku diukur dari cepat atau lambatnya aku menikah.

Aku menatap ke luar jendela kantor, melihat orang-orang yang sibuk berlalu lalang di bawah sana. Apakah mereka semua juga dikejar oleh ekspektasi yang sama dari orang-orang tersayang?

Di meja kerja, aku harus berpura-pura menulis laporan. Namun, pikiranku melayang jauh membayangkan suasana di rumah, di mana setiap kumpul keluarga pasti berakhir dengan pertanyaan itu.

Ibu tidak pernah tahu betapa kerasnya aku berjuang di sini, hanya untuk bertahan hidup dari satu bulan ke bulan berikutnya. Beliau hanya mengerti bahwa perempuan usia 25 tahun sudah harus berkeluarga.

Jika kujelaskan bahwa aku bahkan belum tahu apakah besok masih bisa membayar sewa kos, apakah Ibu akan mengerti? Atau justru beliau akan menyuruhku pulang dan menyerah?

Teman-temanku di kantor mungkin tidak merasakan tekanan ini. Mereka sibuk membicarakan tren liburan terbaru, sementara aku masih dipusingkan oleh standar hidup yang diwariskan orang tua.

Jempolku bergerak perlahan di papan ketik ponsel. Aku ingin menuliskan kejujuran, bahwa aku lelah, bahwa aku ingin diakui sebagai pribadi, bukan sebagai calon menantu orang.

Aku sudah mengetik panjang lebar. Penjelasan tentang mimpi-mimpiku yang tertunda, tentang lelahnya bekerja, dan tentang keinginan untuk sekadar diizinkan bernapas lega tanpa dikejar target sosial. Namun, saat jariku terhenti tepat di atas tombol kirim, keraguan muncul. Jika kukirim ini, apakah Mama akan bersedih? Sambil menatap kursor yang berkedip di ponsel, aku masih tak tahu apakah harus menekan 'Kirim' dan menghadapi konfrontasi, atau menghapus semuanya dan lanjut berbohong bahwa aku baik-baik saja.

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.